Something You Must Learn From #Brave

Brave? Yaa.. Just one word.. 🙂

Setelah sekian lama saya gak nyambangin bioskop, akirnya saya berkesempatan juga nonton pelm lagih.. Kali ini yang saya tonton adalah film “Brave“. Film animasi bikinan Pixar Animation Studios-nya Disney baru rilis di Indonesia tanggal 22 Juni 2012 kemaren.

Brave bercerita tentang seorang putri dari sebuah kerajaan yang sifatnya tomboy abis dan punya hobi memanah. Namanya Merida. Ibu si putri alias Sang Ratu yang anggun, selalu mendidik Merdia untuk menjadi seorang wanita yang anggun juga, selayaknya seorang putri yang nantinya, someday, bakal jadi ratu juga. Merida diajarin ini itu, begini begitu, tapi teteep sifat tomboynya gak ilang2.

Nah, suatu hari, Sang Ratu dan Raja berniat menikahkan Merida melalui sebuah kontes yang diadakan untuk para putra sulung aliansi kerajaan. Jadi, yang menang kontes itu nanti bakal jadi suaminya si Merida. Mendengar kabar ini, Merida otomatis ngamuk2, gak mau banget dia dinikahkan apalagi lewat kontes2 demikian. Dia sebel banget sama Sang Ratu yang selalu mengatur hidup Merida, harus begini harus begitu.. Intinya, Merida belum siap juga untuk menikah. Brantemlah Merida sama Sang Ratu, sampe akirnya keluarlah kata2 “Lebih baik aku mati daripada menjadi seperti ibu”.. Kaburlah dia naik kuda ke dalem hutan..

Lalu, di hutan dia menemukan sebuah gubuk tua yang ternyata dihuni oleh penyihir. Karena ingin mengubah pikiran Sang Ratu agar tidak jadi menikahkannya, maka dia minta ke penyihir itu untuk merubah ibunya. Kemudian si penyihir membuatkan ramuan khusus agar Sang Ratu berubah sesuai rekues Merida. Biasanya yang namanya ramuan kan berupa aer yah, klo ini nggak… Ini berupa kue kecil.. 😆

Kemudian pulanglah si Merida ini ke istana, dan finally bertemu Sang Ratu yang emang udah nyari2 Merida dari tadi. Merida beralasan membuatkan kue buat Sang Ratu, kemudian Sang Ratu memakan sedikiiit dari kue Merida itu. Nggak lama, Sang Ratu merasakan nggak enak badan, jadi dia beranjak masuk ke kamar tidurnya diantar oleh Merida.. Beberapa saat setelah rebahan, Sang Ratu mual dan seperti ingin muntah kemudian terjatuh ke samping ranjang. Merida kemudian mendekat, dan eng ing eeeeng.. Sang Ratu berubah jadi.. jadi.. jadi… X_X

Saksikan kelanjutannya di bioskop2 terdekat! Muahahahaha.. *ktawa maniak

Overall, banyak hal yang menarik dari film ini, pertama2 kita bakal disuguhi pemandangan alam yang wow banget! Lalu, dilihat dari detil gambarnya, menurut saya sih so smooth yah.. Apalagi waktu liat rambutnya Merida.. Hehehe.. OST alias orijinal sontreknya bagus2, dan juga mendukung suasana yang dibangun.. Konflik yang terjadi antara ibu dan anak pun disuguhkan dengan jalan cerita yang mengharu biru.. Saya aja sampe mo nangis, tapi gengsih *ckckckck

Sampai pada suatu scene di mana Merida bermimpi kembali ke masa kecilnya yang sedang bermain2 di dekat ibunya, tiba2 petir menyambar dengan sangat keras di luar ruangan, dan dia ketakutan.. Lalu dia langsung berlari menghampiri ibunya yang sedang duduk asik merajut permadani. Kemudian ibunya memeluknya sambil berkata “Jangan takut, aku di sini..”

Aaaah.. Pikiran saya pun melayang ke bermil-mil jauhnya dari tempat duduk saya di bioskop. Kembali kepada orang tercinta di rumah, di Jogja.. Ya.. dialah ibu saya.. Mamah, demikian saya memanggilnya. 🙂

Anyhow, this movie kinda reminds me of myself. My selfish me, fighting over small things with my mom.. Ah, so embarassing..

Kadang apa yang saya mau bertentangan dengan apa yang mamah inginkan. Yah namanya juga anak, pasti ada egonya. Mamah karena saking sayangnya, makanya kadang suka posesif..

Tapi, saya jadi belajar dari film ini.. That all we need is to listen.. Yeah, just to listen to each other. Listen di sini bukan hanya mendengar yah.. Kalo mendengar means hear. Tapi kalo listen, you pay attention to what you hear.

Jadi, rumusnya –> HEAR != LISTEN alias MENDENGAR != MENDENGARKAN

Yak, kita memang kadang butuh untuk didengarkan, bukan hanya didengar.. Menceritakan keinginan kita satu sama lain.. Jadi masing2 paham apa maksudnya..

Dan sampai pada scene-scene akhir di mana Merida memeluk ibundanya yang masih belum berubah jadi wujud semula.. Dan dia menangis sambil meminta maaf, kemudian berkata “I Love You, Mom..” *oh, d*mn!

Kembali pikiran saya melayang ke mamah saya.. Aaargh,, miss her so much.. Rindu ada di peluknya.. Saya akui memang saya orangnya nggak ekspresif, kalo saya yang disuruh bilang ke mamah, “I Love You, Mom..” pasti aer mata ini udah gak sabar pengen kluar.. Qeqeqeq

Yah.. Sayangilah ortu kita.. Bagi saya, papah dan mamah saya itu luar biasa. No matter how bad i am, they never reject me..

Thanks mom, dad.. for having me as your child, for raising me so i can be like this, now..

Your hug, mom.. dad.. are so called home..  🙂

“Allahummaghfirlii waliwaalidayya, warhamhumaa kamaa Robbayaani saghiiraa”..

Ya Allah, ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tua kami, dan sayangilah mereka seperti mereka menyayangi kami sewaktu kami masih kecil.. Aamiin 🙂

Salut buat para orang tua di dunia.. 🙂

 

Thanks to :
Sumber gambar dari mari..

6 comments

  1. Ninky Hade - Reply

    kasih tau gak yaa?? eheheh *terkekeh culas

    nanti aku kasitau, spoiler alert lagi… sila ditonton aja tape.. hehehe.. 😀

Leave Comment

Your email address will not be published.